Senin, 10 Desember 2012

Latar Belakang Lahirnya Reformasi
 
Reformasi dapat diartikan sebagai pembaharuan ajaran agama Nasrani. Dalam bahasa Inggris disebut “Reformation”. Pembaharuan ini dipelopori oleh Martin Luther, lahir di kota Eisleben, Jerman pada tanggal 10 Nopember 1483. Menempuh pendidikan hingga di perguruan tinggi, pernah belajar hukum tetapi tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal, melainkan memilih jurusan pendeta. Pada tahun 1512, Martin Luther meraih gelar Doktor dalam Teologi di Universitas Wittenberg, Jerman.
Martin Luther (http://www.reformation.org)
Proses lahirnya reformasi dimulai ketika Martin Luther ke Roma tahun 1510. Dilihatnya pemborosan dan kemewahan duniawi para pendeta gereja Katolik yang membuatnya kaget dan terheran-heran. Martin Luther selanjutnya menyatakan keluhan-keluhan ketidakpuasan terhadap gereja Katolik. Hal paling mendasar yang mendorongnya melancarkan gerakan protes terhadap gereja Katolik adalah adanya pengampunan dosa melalui penjualan surat pengampunan siksa (indulgensi). Praktek penjualan surat pengampunan siksa yang pertama dijumpai oleh Martin Luther adalah ketika seorang Kardinal utusan Paus datang ke Jerman. Utusan tersebut dengan bersemangat menyampaikan kepada jemaat Gereja yang haus akan keselamatan bahwa hukuman kekal akan hapus bagi mereka asal membayar uang pajak.
Surat penghapusan siksa itu menunjukan dengan jelas betapa gereja Roma telah bersifat duniawi. Titik tolaknya ialah sakramen pengakuan dosa. Dosa yang diakui kepada seorang imam diampuni apabila imam berkata: “ego obsolvote” (Aku mengampuni engkau). Demikian ajaran gereja Katolik Roma.
Menurut ajaran gereja waktu itu, orang yang meninggal tidak langsung masuk surga atau sebaliknya ke neraka, tapi dia berhenti sementara di “purgatorium” yaitu tempat di mana orang yang belum siap masuk ke surga dibersihkan dulu oleh api atas dosa besarnya. Hukuman api penyucian ini dapat dihapus dengan memakai harta sehingga seseorang masuk ke surga. Gereja dapat mengurangi hukuman seseorang di dalam api penyucian jika memberikan harta, ikut dalam perang Salib dan telah menyesali benar-benar dosanya. Sebagai bukti hukuman dikurangi adalah diberikan sepucuk surat, yaitu surat penghapusan siksa. Tapi lambat laun surat itu dapat diperoleh dengan hanya menyumbang uang.
Awalnya, surat pengampunan dosa tersebut dijual pada waktu Perang Salib sekedar untuk membantu perang suci itu. Namun mulai awal abad ke-16 ide yang murni ini telah ditransformasikan menjadi sumber pendapatan untuk Paus yang menghadapi krisis keuangan dan bersedia untuk fleksibel dalam teologinya agar dapat memenuhinya. Kemarahan Luther secara khusus disulut oleh teknik-teknik pemasaran Johannes Tetzel, salah seorang penjual indulgensi ternama. Hanya dengan tiga mark Jerman, seorang pendosa dapat dilepaskan dari semua penghukuman yang akan dihadapinya dalam api penyucian. Luther sangat marah dengan semboyan yang digunakan Tetzel, yaitu, “Kalau uang berdenting di dalam peti, melompatlah jiwa itu ke dalam sorga”. Lebih berani lagi, Tetzel tidak hanya berjanji memperpendek waktu di purgatorium bagi yang mati, malahan dia mengutamakan bahwa dengan membeli suratnya para pembeli tidak akan berhenti di purgatorium, akan tetapi langsung menuju surga.
Penjualan surat pengampunan siksa pada abad ke-16 di Jerman bukan lagi untuk membiayai perang Salib, tetapi pendapatan itu dipakai membantu gereja St. Peter di Roma, sehingga menimbulkan kemarahan orang-orang saleh. Kaum Patriot Jerman menganggap sebagai eksploitasi terhadap orang-orang Jerman. Roma dianggap perampok besar.
Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther menempel poster di pintu gerbang gereja Wittenberg yang berisi "sembilan puluh lima pokok sikap" yang diantaranya melabrak kemewahan hidup gereja secara umum dan kirim tindasan "sembilan puluh lima pokok sikap"-nya itu kepada Uskup Mainz. Selain itu, dicetaknya pula dan disebar luas ke mana-mana.
Martin Luther menerjemahkan Injil kedalam bahasa Jerman yang menimbulkan pengaruh besar dalam masyarakat. Tulisan tersebut membuka pintu bagi tiap orang mempelajari Injil sendiri tanpa melalui perantara gereja atau pendeta. Terjemahan yang begitu indah dan sempurna berpengaruh besar terhadap perkembangan bahasa dan kesusasteraaan Jerman.
Kepustakaan:
Boehlke, Robert R. 2006. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Plato sampai Ignatius Loyola. Jakarta: Gunung Mulia.
http://media.isnet.org/iptek/100/MartinLuther.html. Diakses tanggal 9 Juni 2012.
McGrath, Alister E. 2006. Sejarah Pemikiran Reformasi. Diterjemahkan oleh Liem Sien Kie. Jakarta: Gunung Mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar